Maybe it is true I never listen to you, I am so sorry
Maybe it is true …
Ini sebuah pelajaran yang bagus untuk sama sama mengetahui kita masih belum sebegitu dewasa. Masih meributkan hal, bukan membahasnya lalu mencari solusi. Kita sama-sama keras dan saya sadar, saya lebih keras dari kamu. Mendengarkan suara tangismu terasa seperti meluluhkan tulang-tulang, menyerap semua energi dan membuat saya lemas, setidaknya saya tak sebegitu kerasnya, karena tangismu sudah cukup melemahkan saya.
Entah berapa ribu kali janji sudah saya ucapkan, dan lagi-lagi kata-kata busuk itu keluar, saya minta maaf. Saya sangat-sangat sadar, luka dari kata-kata itu tak sedemikian mudah sembuh lalu hilang, tetapi sayang kesadaran saya selalu muncul sesudah semua berlalu, setelah kamu diam menahan tangismu.
Saya hanya diam, pikiran saya malah mengendap ke artikel yang saya baca tadi siang, kebutaan karena lupus, yang gejalanya adalah tiba-tiba hilang penglihatan lalu kembali lagi, persis seperti yang kamu bisikkan beberapa menit sebelumnya ketika mati lampu, dan saya bilang, mungkin itu karena akomodasi mata kamu yang mulai melemah.
Mungkin kamu tak akan pernah tahu seberapa besar saya mencintaimu, saya juga tak mampu mengukurnya. Saya bilang sekarang, saya selalu khawatir atas apa pun yang kamu alami, sakit kepala, sakit perut, gatal-gatal, dan saya cuma ingin satu, kamu baik-baik saja, dan lagi-lagi itu manifestasi konyol dari cinta, setidaknya menurut seseorang…
Lalu kamu mulai bilang, saya sudah tidak mencintaimu lagi, saya sudah berubah, saya tak seperti dulu, dan kamu merasa sama sekali tak mengenal saya. Saya berbeda. Lalu kita kembali terjebak pada substansi sebuah hubungan dan substansi kepribadian. Mana yang bisa berubah dan mana yang harus konstan. Memang benar saya tidak lagi sabaran, dan saya merenungi ini setiap saat, ada sesuatu yang tidak pas, dan saya sadar tekanan yang membuat saya seperti itu.
Lebih parah lagi saya mulai menyalahkanmu … saya minta maaf.
Tekanan itu bisa didefinisikan sebagai sebagian beban kerjaan, sebagian beban kehidupan sosial, sebagian urusan finansial, sebagian urusan seksual, sebagian urusan kesehatan, dan lain lain. Saya sadar, tak ada yang sempurna di diri saya tentang semua hal di atas.
Beban kerja saya nambah, sekarang saya memegang kendali perusahaan, dengan segala tanggung jawab dan rasa takut yang membuat saya bertahan di kantor sampai malam, untuk menyelesaikan ribuan baris kode tiap hari. Kehidupan sosial saya sama sekali buruk, saya bukan anggota arisan, saya tidak pernah berkunjung ke rumah orang, saya tak berkenalan dengan orang baru dalam dua tahun terakhir (mungkin lebih). Finansial saya juga tidak bagus, saya masih punya hutang, dan keuangan saya berantakan. Seksual, lagi-lagi harus berakhir di kamar mandi, tak pantas lah saya sebutkan di sini. Kesehatan saya kurang bagus karena kerjaan saya yang overload. Tiap minggu saya harus diurut, tiap hari punggung hingga tungkai terasa pegal, kepala berat tiap bangun pagi, tenggorokan kering, kadang batuk darah, dan baru-baru ini saya terkena maag, katamu itu asam lambung.
Semua itu butuh waktu, dan setiap episode itu akan berakhir digantikan episode baru. Sama semacam waktu saya bekerja sebelum ini, saya pernah punya waktu yang sangat sangat luang, untuk apa pun. Kita pernah menikmatinya.
Kita sama-sama mengetahui sebuah sinetron dibuat untuk memancing emosi penonton sehingga mereka tertarik untuk menonton keesokan harinya. Kadang kita berkomentar terlalu pedas pada peran si antagonis, lalu mengasihani si tokoh protagonis. Kita kadang tidak sabar ketika melihat si tokoh utama disiksa, dibuang, sakit, tak mampu melawan, dan kita terpancing … padahal semua itu dituangkan dalam naskah.
Sayang seribu sayang, saya juga salah satu penonton itu. Dengan mulut saya mencaci satu episode, dengan kata-kata saya memaki satu bagian, lagi-lagi saya hanya bisa berkata “manusia, tak pernah berbuat lebih baik dari kemarin, lebih buruk dari keledai, lagi-lagi satu perkelahian terjadi” seperti sekarang. Ketika luka-luka itu baru saja menemukan tempatnya, ketika darah itu baru saja mengalir. Saya minta maaf.